Tuesday, 1 July 2014

Keliling Dieng Plateau

Hujan deras yang mengiringi perjalanan kami menuju Dieng membuat kami sempat galau. Tapi seperti biasa, kami cuma bisa cengar-cengir aja menikmati perjalanan ini. Alhamdulillah setelah 15 menit hujannya mulai reda, sisa gerimis aja, dan setelah 1 jam perjalanan dari Wonosobo, kami sampai juga di Dieng, tepatnya di Pertigaan Bu Jono. Dengan lari-lari kecil menembus gerimis, kami celingak-celinguk cari penginapan kami, setelah sampai di depan penginapan Bu Jono, orang yang kami tanya alamat Homestay Dieng Pass bilang kalau letak penginapan kami sebenarnya tepat berada di tempat kami turun bus tadi. Hahahaaa, yahilaaahh ndrooo!

Akhirnya kami sampai di Homestay Dieng Pass, kami dapat kamar bersebelahan di lantai 2, dan sewaktu lihat kamarnya, jeng jeng jeng.... Kamarnya gede banget dan bagus! Hahaha. Berhubung udah capek banget, jadi gue gak sempat foto kamarnya, kalau mau tahu gimana kamarnya, cek aja di sini. 1 kamar itu bisa buat bertiga sebenarnya, kalau mau tambah kasur lagi bisa berlima bahkan! Di dalam kamar ada kasur gedeee + bed cover + selimut tebal, TV, jemuran kecil, toilet, daannn yang paling penting itu ada water heater. Dingin banget bookk! Temboknya aja dingin, apalagi airnya, kayak air es.

Pas kami datang disuguhi 1 teko air panas, beberapa kantong teh celup, cangkir, gula, dan sendok. Jadi silahkan kalau mau nge-teh sepuasnya. Setelah beberes, mandi, solat, dan gegoleran, kami berniat mau cari makan, tapi sayangnya masih gerimis. Walhasil kami cuma beli cemilan di warung yang ada di penginapan, sambil wifi-an sebentar, walaupun kurang kencang juga kecepatannya, tapi lumayan lah, soalnya sinyal provider kami angot-angotan. Menurut info, sinyal yang bagus di sana itu Telk*msel.

Setelah hujan reda, kami nanya ke Mbak pengurus homestay, tempat makan Mi Ongklok di mana. Terus si Mbak bilang kalau di Dieng itu gak ada Mi Ongklok yang mantap. Sebenarnya Mi Ongklok itu asli Wonosobo, jadi lebih baik kalau mau makan yang rasanya mantap mending makan di Wonosobo aja. Ya sudah, kami memutuskan untuk makan bakso saja di dekat homestay. Harganya kalau gak salah Rp.8.000,- per porsi. Rasanya? Yah, kalau lagi lapar, apa aja habis kok :p

Setelah kenyang tapi lidah masih pengen ngunyah, kami coba jalan-jalan aja di sekitar situ sambil cari kentang goreng. Kata Ibu gue, Dieng itu terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kentang terenak. Setelah ketemu penjual kentang, dan bayar Rp.10.000,- untuk 1 porsi kentang goreng, kami mampir ke Ind*maret untuk jajan-jajan centil, terus jalan-jalan.

Gue sempat agak bingung kenapa orang-orang di sekitar situ banyak yang ngeliatin kami, dan gue baru ngeh kalau Teguh memang nyolot. Udah jam menjelang Maghrib, dingin, berkabut, orang-orang lokal udah pada kemulan sarung, tapi dia dengan pede-nya pakai celana pendek, sampai Mbak penginapan pun nanya, "Mas'e gak ngerasa dingin?".

Penampakan anak nyolot :p

Waktu jalan-jalan sore itu, kami ketemu bule yang lagi jogging sore, tapi dia pakai celana training panjang. Teguh memang sakti!

Oh iya, btw, jangan harap bisa dapat mikrobus menuju dieng setelah jam 5 sore ya. Jam 5 itu mikrobus sudah pada istirahat~

Kami balik ke penginapan, makan kentang sambil ngeteh sore, sambil nonton TV~

Kentang + bumbu barbeque

Kentangnya enaakk, gak perlu dikasih bumbu tambahan pun kentangnya sudah berasa gurih. Mejik!

Setelah ngobrol-ngobrol sampai jam 8 malam, gue ngantuk, Teguh balik ke kamarnya. Dan gue tidur.....

Tapi, kenyataan berkata lain, gue kebangun, pas lihat jam, ternyata masih jam 11. Maaakkk, gue pikir udah jam 3 pagi... Dan gue mencoba tidur lagi... Susah tidur. Kedinginan banget, selimut 2 tebal-tebal gak ngaruh, dinginnya nusuk tulang. Gue pun tertidur, lalu jam 12 kebangun, tidur, jam 1 kebangun, tidur, jam 2 kebangun, dan gue capek sendiri. Daripada kinerja otak gue menurun, mending gue gak lanjutin tidur. Gue nonton, tapi jam segitu gak ada acara bagus. Main HP, bisa buka internet, tapi mati gaya lama-lama. Mau baca buku, tapi gak kuat bangun buat ambil buku, dinginnya bikin badan kaku. Hahahaaa rempong serba salah. Pilihan terakhir, gue gangguin Teguh. Gue telfon dia, siapa tahu dia gampang dibangunin, biar nemenin gue ngobrol. Dan ternyata... dia udah bangun. Tau gitu kan dari tadi gue suruh dia nemenin gue.....

Setelah ngobrol sampe jam 3.30 pagi, kami langsung siap-siap, soalnya janjian mau dijemput guide untuk ke Sikunir jam 4 pagi. Setelah pakai kaos berlapis-lapis, celana training, kaos kaki berlapis, dan sandal gunung, kami siap tempur. Pas turun ke teras, ternyata sudah ada yang nunggu kami, gue sempat bingung, gue janjian dijemput sama Pak Wignyo, tapi yang ada di depan teras mas-mas masih muda. Terus si Mas nanya sama gue:
"Mau ke Sikunir, Mbak?"
"Iya, Mas. Tapi saya sudah ada yang jemput, janjian jam 4".
"Pak Wignyo, ya? Saya Indra. Anaknya Pak Wignyo. Bapak sedang ada tamu juga, jadi Bapak minta saya yang menggantikan."
Ooh, Alhamdulillah, tepat waktu sekali si Mas Indra ini.
Cabcus lah kita menuju Sikunir, perjalanan kira-kira 20 menit menuju Desa Sembungan. Kami ngobrol banyak sama Mas Indra, orangnya menyenangkan. Ramah, sopan, sangat informatif, dan yang cewek-cewek pasti senang adalah orangnya masih muda & ganteng, tapi udah beristri loh, hahahaa *infonya penting abis! :p

Sekitar jam 4:30 kami sampai di Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. Kalau mau nanjak ke Sikunir, kita cuma bisa naik kendaraan sampai situ, sisanya nanjak pakai kaki sendiri... Gue sempat jiper lihat ke atas, medan-nya lumayan bikin lumanyun, maklum lah newbie :p

Di sekitar kaki Bukit Sikunir udah banyak orang yang siap nanjak, kebanyakan masih santai makan mie instant & minum purwaceng. Berbekal 1 senter, kami langsung aja nanjak bertiga. Jalan setapak, gelap, cukup licin, cukup terjal, oksigen tipis, dan dingin yang nusuk tulang membuat gue ngos-ngosan parah, salah gue memang dari awal kurang baik atur tempo pernapasan, jadi gue beberapa kali berhenti buat istirahat. Tapi berhubung itu jalan setapak, kita gak bisa asal istirahat, di belakang kita ada orang antri buat naik, jadi paling gak kita cuma bisa istirahat beberapa detik sambil tetap berdiri megangin lutut yang gemetaran :))

Gue sempat nengok ke kiri, dan itu udah jurang, mahahahhahaha pengen ketawa sambil nangis rasanya. Kalau capek, gue cuma bisa nyenderin tangan di pohon-pohon kecil di sebelah kanan. Beruntung gue punya 2 bodyguard, Teguh & Mas Indra yang setia menyemangati gue & sigap megangin gue tiap gue hampir kepleset :') Gue sempat beberapa kali nanya "Masih jauh ya, Mas?". Yah berhubung si Mas Indra udah kenyang naik ke situ, dia bilang "Gak kok, sebentar lagi, sudah dekat". Kaki gue makin jadi gemetaran-nya, dan akhirnya gue minggir, nyender di pohon kecil, dan minum. Saat gue buka masker, bibir gue langsung kaku sekejap, baru kali itu gue ngerasain bibir gue mati rasa, 5 derajat broooo! *norak :p

Pada saat itu, beberapa detik gue sempat ngomong dalam hati "Lo ngapain sih, Des? Iseng banget nantang maut, coba lihat sebelah lo udah jurang! Jam segini harusnya lo lagi tidur nyenyak...". Gue sempat down karena lihat ada orang yang turun lagi karena gak kuat nerusin. Tapi kemudian Teguh nyemangatin "Ayo semangat! Sedikit lagi! Masa gitu aja nyerah! Sayang banget udah jauh-jauh ke sini!". Mas Indra menambahkan "Semua perjuangannya akan terbayar kalau sudah sampai di atas, Mbak. :)". dan gue pun semangat lagi, paksa-paksain semangat lah pokoknya. Dalam hati gue bilang "Yailah Des, setengah jam doang lo mau nyerah, gimana gunung-gunung yang butuh berhari-hari buat didaki? Kalahin rasa malas lo!". *ciieee gitu

Selama perjalanan nanjak, gue sempat lihat ke atas. Dan, gue lihat ciptaan Tuhan yang selalu bisa bikin gue semangat, dan bisa dilihat dengan mata telanjang di kawasan pegunungan: Milky Way. Allahuakbar! Langitnya cerah banget, jadi bintang-bintangnya terlihat jelas! Gue bilang ke Teguh, "Guh, salah 1 hal yang bikin gue semangat ngejar sunrise itu ada di atas.". Teguh nengok ke atas sambil teriak norak "WAAAHHHHH!!! MILKY WAAAYYYYYY!!! AKHIRNYA GUE BISA LIHAT MILKY WAAYYY!". :')))

Dan, setelah beberapa langkah yang berat & napas yang engap, kami sampai juga di atas. Alhamdu...lillah! Semua orang ambil posisi pewe. dan udah ruame banget ABG-ABG bertongsis yang sibuk foto-foto (padahal masih gelap). Gue sih gak masalah sama mereka yang pada sibuk foto-foto dan heboh bangeetttss, gue berusaha membiasakan diri dengan keramaian yang ada di tempat yang seharusnya tenang. Makanya gue berusaha cari spot yang agak jauh dari kerumunan mereka. Gue duduk di atas batu gede (nengok kiri udah jurang), dan Teguh - Mas Indra duduk di kursi kayu di bawah.

Yang membuat gue kecewa adalah.... Mereka buang sampah sembarangan, dengan muka datar. Kenapa siiihhh, bantu jaga lingkungan aja susah banget, kan buat kebaikan kita jugaa :'( Hal lain yang membuat gue agak terganggu adalah, mereka sering ngarahin senter ke muka orang dengan asal, menurut gue sih agak kurang sopan, apalagi kalau arahnya langsung ke mata, silau-nya gak asik, meenn! Ah, ya sudahlah!

Gue berusaha menenangkan diri, menikmati detik-detik menjelang bangunnya si matahari, sambil pura-pura menganggap orang-orang gengges itu cuma angin lewat~

Dan, yang ditungu-tunggu pun tiba... This is it!

The gorgeous golden sunrise





Maasyaa Allah, indaaaahhhh bangeeeettt! :')

Siluet Gunung Sindoro (depan) & Merapi (belakang) yang gagah

Memang benar, naik gunung itu seperti simulasi hidup. Saat perjalanan menuju puncak, kita merasakan sakit, lelah, takut, dan mau nyerah. Tapi percaya lah, semua perjuangan itu akan terbayar saat kita sudah "sampai di atas". Kita belajar untuk jadi pemberani, pantang menyerah, dan tetap rendah hati, karena kita butuh dukungan dari orang lain saat naik ke puncak, dan yang paling penting, kita hanyalah makhluk kecil di hadapan-Nya. Seperti motto para Pecinta Alam, "Tunduk saat naik, dan tegak saat turun." :) *tssaaahhhh

FYI, kalau di wilayah Dieng hujan di saat siang-sore-malam, biasanya langit di esok pagi akan cerah, dan ada efek semburat hitam di langitnya. Yah, keindahannya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh. God is divine!

Mas Indra beberapa kali nawarin gue untuk difoto bareng Teguh di bawah (tempat kerumunan orang bertongsis), tapi gue selalu bilang "Nanti aja Mas. Saya masih senang duduk di sini. Lebih tenang, hehe.", Teguh pun menimpali "Yuk, foto yuk! Sayang gak ada foto bareng.", Teguh memang narsis~

Sebenarnya geng tongsis itu sudah turun bukit begitu mataharinya muncul, jadi kami bisa gantian juga nongkrong di spot yang sebelumnya mereka kuasai, untuk melihat Gunung Sindoro yang gagah lebih dekat.

Gunung Sindoro, yang di ujung kanan itu Gunung Sumbing

Kalau mau lihat ada awan di bawah kaki kita kayak di gambar ini, katanya sih harus nunggu awan turun sampai jam 8. Tapi kami diburu waktu :(

Btw, katanya Sikunir ini hanya dianggap bukit, bukan gunung, walaupun tingginya >2000 mdpl, entah kenapa, hehe.

Setelah puas (sebenarnya belum) menikmati sunrise, kami pun turun, ngejar waktu, soalnya masih ada beberapa objek wisata yang kami mau kunjungi. Waktu turun, ada antrian panjang, rame luar biasa, jalanan licin juga semakin terasa, beberapa kali gue hampir kepleset, sampai akhirnya... sreeeetttt... brug! Gue jatoh sodara-sodaraa.... Prok prok prok! Beberapa cowok di belakang gue sempat nahan ketawa, dan akhirnya mendahului gue. Teguh juga sedikit ketawa sambil bilang "Kamu ngapain?", rasanya gue mau jawab "Lagi surfing!". Kemudian Teguh & Mas Indra bantuin gue bangun. Sebelum jatuh itu pikiran gue sempat kosong, gue lagi berhenti berdoa, dan sempat mikir aneh semacam "Duh, licin bener, bisa jatuh nih gue...", dan akhirnya gue beneran jatuh. Duh, nikmat sekali rasanya jatuh barusan, sakitnya tuh di sini *nunjuk ke bokong

Beberapa kali gue sempat hampir kepleset (lagi), Teguh juga, dan Mas Indra juga. Sumpah deh itu licinnya gak main-main. Kami sampai juga di kaki Sikunir, lalu disambut sama seniman berikut:

Mas-mas yang rajin bangun pagi

Sebenarnya, kalau mau lihat sunrise dari spot yang lebih menantang lagi, bisa coba nanjak Gunung Prau.

Pas kami jalan ke arah parkiran, Mas Indra kasih tau di belakang parkiran itu Telaga Cebongan. Tapi karena rame, kami minta langsung aja cabcus ke Telaga Warna. Mas Indra kasih rekomendasi spot yang bagus untuk lihat Telaga Warna, tapi harus trekking (lagi). Yah, yaudahlah sekalian capek, haha

Selama di jalan menuju Telaga Warna, kami banyak ngobrol. Mas Indra cerita keseharian masyarakat Dieng, perkembangan pariwisata-nya, dan ada cerita menarik, ada 1 stasiun TV yang terkenal dengan motto "Terdepan...."-nya itu, yang gak boleh liputan di Dieng lagi karena salah dalam mengabarkan, hahahaa, maap gue sama Teguh langsung ngakak sejadi-jadinya. Pasti paham lah itu stasiun TV apa :p

Isu kawah yang meletus di awal 2014 sempat membuat Dieng sepi selama beberapa saat, padahal itu cuma gosip. Sebenarnya kawah yang berbahaya di Dieng itu adalah Kawah Timbang (di daerah Batur), lokasinya cukup jauh dari kawasan wisata. Konsentrasi Co2-nya terlalu tinggi, hanya peneliti yang bisa masuk ke daerah itu, itupun harus pakai alat pengaman & tetap jaga jarak dari kawahnya langsung, karena ayam aja mati masuk kawasan itu.

Masyarakat setempat merasa wisatawan masih kurang banyak yang mengunjungi Dieng, kalau dibandingkan dengan Bromo. Gue sih berharap semakin banyak wisatawan yang datang, semakin banyak juga yang sadar untuk jaga lingkungan, dan Pemda setempat lebih serius mengembangkan daerah-nya, bukan sekedar menghabiskan anggaran~ Oh iya, waktu kami keliling Dieng itu, gue sempat lihat ada 1 tanah lapang + papan proyek "Akan dibangun RESORT". Jeng jeng jeng... Entah kenapa gue selalu khawatir kalau baca tulisan semacam itu, apalagi kalau developer-nya swasta..... Yah, gue berdoa yang terbaik deh.

Akhirnya kami sampai juga di kawasan Batu Pandang, lalu kami nanjak kurang lebih 5-10 menit, ringan sih medan-nya, tapi agak licin, dan kami melewati ladang warga, lihat tanaman kol, kentang, dan cabai khas Dieng (bentuknya kayak paprika). Lalu, setelah sampai di atas, kami lihat pemandangan ini:

Telaga Warna (hijau) & Telaga Pengilon (coklat)


Subhanallah, indah nian. Dan ini ada di Indonesiaaa! Aku cinta Indonesiaaa (bukan pemerintahnya) :p

FYI, Telaga Warna itu airnya mengandung belerang. Telaga Pengilon itu airnya tawar, warnanya coklat karena ada lumpur, apalagi kalau habis hujan, jadi coklat banget.

Yang paling gue suka dari tempat ini adalah: Tenang, damai, pas banget buat orang-orang yang aslinya suka menyendiri kayak gue, hehehe. Gak banyak orang yang ke sini, mungkin udah pada capek nanjak Sikunir, haha. Kata Mas Indra, kalau lihat Telaga warna di bawah, yang kita lihat hanya warna putih, kalau mau lihat efek "berwarna", lihatnya lebih baik dari atas. Tapi, untuk yang takut ketinggian, siap-siap aja deg-degan, tapi kalau lihat pemandangan kayak gini, rasa takut itu akan kalah sama rasa kagum. :) FYI, kita harus gantian sama orang lain kalau mau lihat pemandangan ini, soalnya tempatnya kecil.

Kebanyakan jalan setapak yang ada di beberapa titik objek wisata di Dieng ini dibangun atas inisiatif warganya sendiri, pakai uang & tenaga mereka, soalnya kelamaan kalau nunggu aksi dari Pemda. Salut!

Setelah dari Batu Pandang, kami turun, mampir jajan kentang goreng, dan masuk ke Dieng Plateau Theater (DPT).

Dieng Plateau Theater

Di situ, kita bisa nonton film dokumenter tentang Dieng, semuanya dijelaskan di film itu, kurang lebih 30 menit. Mas Indra dulu pernah kerja di DPT, jadi dia tunggu di luar aja, soalnya udah hapal betul isi film-nya, haha

Setelah selesai nonton di DPT, kami cabcus ke Komplek Candi Arjuna:

Komplek Candi Arjuna


Buat yang suka narsis, tempat ini sangat mendukung, spotnya bagus! Selain itu, ada grup Mas-mas berkostum ala Teletubbies & Wayang yang siap menemani foto bersama, tapi harus bayar yaaa~ :))

Setelah itu, kami menuju Kawah Sikidang, tadinya udah capek, tapi sayang juga udah jauh-jauh gak lihat kawah :p


Terus kami lihat ada anak kecil yang lagi menemani Bapaknya menjual telur rebus

Dek, berani amaat, Dek!

Gue beli telur puyuh rebus, Rp.5.000,-, isi 5 butir. Gue makan 1 butir di tempat, rasanya ya sama aja sama telur puyuh biasa, tapi ada efek rasa lumpur juga :))). Sisanya gue simpan di tas, kemudian ketinggalan di penginapan, dan gue harus merelakannya  padahal nyeselnya sampai sekarang. :'))

Setelah puas main di sekitar kawah, gue tertarik untuk beli kentang ulir goreng di dekat kawah itu. Harganya Rp. 5.000,-. Rasanya enaaakkkk! Kata Mas Indra, olahan kentang terenak di Dieng adanya di sekitar Kawah Sikidang. Kami mabok kentaannnngg~~~

FYI, Dieng itu letaknya tepat di antara 2 kabupaten, Wonosobo & Banjarnegara. Candi Arjuna & Kawah Sikidang terletak di Banjarnegara.

Kami pun balik ke penginapan, bebersih, dan sempat tiduran sebentar sampai jam 12. Karena udah kecapekan, kami memutuskan untuk minta diantar Mas Indra aja ke Jogja. Udah gak kuat ngeteng naik bus lagi, hahahahaaa

Sayang kami gak sempat ketemu anak-anak gimbal, soalnya takut kesiangan.

Oh iya, sesuai saran dari Mas Indra, kami mampir makan Mi Ongklok di Wonosobo, tepatnya di Mi Ongklok Longkrang, yang katanya terenak di seantero Wonosobo

Mi Ongklok dan Sate Sapi, lebih enak lagi ditambah Tempe Kemul~

Rasanya? Menurut kami, enaaakkk pake bangeeetttt! Harganya juga terjangkau, kami makan 2 porsi mi ongklok + 1 porsi sate sapi + 4 tempe kemul + 2 teh manis cukup bayar Rp. 30.000,-. Rasanya ngangenin~

Sayang banget Mas Indra gak mau diajak makan bareng, dia cuma nungguin di mobil, udah makan katanya, duh karakter orang Jawa banget si Mas Indra ini, suka gak enakkan. Dan, yang dodol adalah, kami lupa ngajak Mas Indra foto bareng :(((

Perjalanan ke Dieng ini benar-benar sangat berkesan. Kenekatan kami yang sangat kami syukuri pernah kami lakukan seumur hidup. Semoga suatu saat nanti kami sempat ke Dieng lagi. Ketemu Mas Indra lagi, tanpa lupa foto bareng. Kalau kata Savage Garden sih "I knew I loved you before I met you, Dieng". Duilleeehhh :'))

Berikut ringkasan bagaimana cara ke Dieng ala backpacker:
  1. Berhubung kami berangkat dari Magelang, tepatnya Salaman, jadi kami naik mikrobus ke Sapuran. Tarif ke Sapuran Rp. 12.500,- per orang. Perjalanan kira-kira 1 jam. Sebenarnya sih katanya ada bus langsung Wonosobo, tapi jaraknya lebih jauh.
  2. Dari Sapuran, kami naik bus ke Wonosobo. Perjalanan kira-kira 1 jam. Tarifnya Rp. 12.500,- per orang. Buat yang gak tahan asap rokok, sabar aja ya, soalnya sepanjang jalan akan ketemu orang yang dengan bebas ngerokok di dalam bus :')
  3. Menurut info dari temannya Mas Indra, kalau dari Jogja, sebenarnya kita bisa naik elf travel dari Jogja langsung ke Wonosobo, elf-nya ada sampai malam.
  4. Sampai di Wonosobo, minta diturunin di pangkalan mikrobus ke Dieng. Terus naik mikrobus dengan tarif Rp. 10.000,- per orang. Perjalanan kira-kira 1 jam. Nanti turun di pertigaan Bu Jono. Bus menuju Dieng cuma ada sampai jam 5 sore.
  5. Gue merekomendasikan penginapan Homestay Dieng Pass. Tarifnya per malam Rp. 150.000,- per kamar, kalau pas lagi musim liburan, tarifnya jadi Rp. 200.000,-. Ada juga kamar untuk family, harga pun menyesuaikan. Kamarnya nyaman banget, ada water heater kok. ;)
  6. Kalau mau keliling Dieng Plateau, bisa kontak rentalnya Pak Wingnyo (085725999100), atau kontak anaknya, Mas Indra (085228833770). Orangnya menyenangkan dan informatif banget! Selain itu, harga yang ditawarkan udah komplit guide + driver + bensin + parkir + tiket masuk objek wisata, kalau mau minta diantar ke Jogja, atau minta dijemput di Wonosobo juga mereka siap. Harga sewa yang ditawarkan kompetitif! Dihitung berdasarkan jumlah orang yang ikut dalam 1 mobil. Kalau mau sewa rental mobil beliau, bilang aja temannya Desi & Teguh dari Jakarta ;)
  7. Tempat yang kami rekomendasikan untuk dikunjungi selama keliling Dieng Plateau adalah Bukit Sikunir, Batu Pandang (bisa lihat landscape Telaga Warna & Telaga Pengilon dari atas), Komplek Candi Arjuna, dan Kawah Sikidang. Candi Arjuna itu sebenarnya dekat dari pertigaan Bu Jono, jalan kaki juga bisa kok, kira-kira 10 menit.
  8. Suhu udara dari siang ke malam itu bisa turun drastis, kalau udah malam, suhunya biasanya 10 derajat, menjelang fajar suhunya 5 derajat. Kalau lagi musim kemarau (Juli - Agustus), suhunya bisa mencapai titik 0 derajat, dan membekukan tanaman petani :(
  9. Pas mau trekking ke Sikunir, siapin senter, minyak kayu putih/ minyak angin, pakai baju hangat, syal, sarung tangan, kaos kaki, dan kalau perlu kupluk juga yaa. Lebih baik pakai sandal gunung atau sepatu khusus trekking, soalnya medannya gak mudah. Jangan lupa bawa minum. Ada yang jual makanan & minuman sih di puncak Sikunir. Tapi, jangan buang sampah sembarangan ya. :)
  10. Jangan lupa cobain kentang goreng-nya, dan katanya kentang di Kawah Sikidang itu paling enak! Terus, kalau mau coba Mi Ongklok, mending coba Mi Ongklok Longkrang di Wonosobo aja.
  11. Kalau mau terusin perjalanan ke Jogja, sebaiknya jam 12 siang sudah mulai jalan ke Jogja, soalnya macet. Di jalan menuju Jogja, jangan lupa mampir beli es dawet khas Banjarnegara ya. Enak, alami & segeerrr banget! Harganya cuma Rp. 2.500,- aja gitu per mangkok :')

Take nothing but pictures. Leave nothing but footsteps. Kill nothing but time.

Selamat menikmati indahnya Dieng Plateau! :)

Abellia, Si Anak Sekolahan

Postingan gue kali ini, spesial gue dedikasikan untuk Abellia Anggi Wardani. Pagi itu, tahun 2007, hari pertama kuliah di Sastra Pranci...