Postingan gue kali ini, spesial gue dedikasikan untuk Abellia Anggi Wardani.
Pagi itu, tahun 2007, hari pertama kuliah di Sastra Prancis UI.
"Aku Abel..."
"Desi."
"Kamu dari SMA mana?"
"SMA 14. Kamu?" pengen ngomong gue-lo, tapi ternyata dia ngomongnya aku-kamu
"Aku dari SMA 1 Salatiga. Des, kamu udah pernah belajar Bahasa Prancis sebelumnya?"
" Udah sih dulu di SMA, tapi basic-nya aja."
"Des, please banget ajarin aku ya. Aku gak ada basic sama sekali. Bener-bener blank. Aku duduk di sebelah kamu ya."
"Eh... Iya..." Jawab gue dengan ragu-ragu, mudah-mudahan anak ini gak salah langkah minta ajarin gue. Begitu pikiran gue saat itu.
Siapa yang sangka, bertahun-tahun setelah itu, anak yang minta ajarin Bahasa Prancis sama gue itu, yang ngefans sama K*ngen Band itu, bisa one step ahead of me. Oh no, 2 steps, even 3 steps.
Setelah percakapan itu, entah sudah digariskan sama Tuhan atau gimana, gue sering sekelas sama dia. 5 semester berturut-turut dapat kelas KBP (Kemahiran Berbahasa Prancis) yang sama. Dan, gue sama dia itu sama-sama Sagittarius. Sama-sama jutek. Sama-sama sarkas. Eh, gak deng, dia lebih sarkas dari gue.
Gue dari awal tahu kalau dia pintar. Soalnya dia masuk jurusan ini lewat jalur khusus, jalur undangan, jadi gak perlu ikut SPMB kayak gue.
Menurut keluarga & tetangga gue, gue itu pintar. Soalnya dari kecil selalu bisa masuk sekolah unggulan, dapat ranking, rata-rata nilai ujian akhir selalu di atas 8.
Mungkin gue sama Abel sama-sama pintar. Tapi bedanya Abel itu rajin, gue gak begitu rajin. Kalau gue dibilang rajin, mungkin Abel pantas dibilang ke-rajin-an.
Sedikit intermezzo tentang gue. Sejak SMA, gue mulai jadi "orang yang bingung". Bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa, bingung mau jadi apa. Sempat pengen jadi psikolog, tapi abis itu pengen jadi pengacara. Pengen jadi dokter, tapi gak mungkin, soalnya gue makin gak suka matematika, apalagi kimia, dan akhirnya gue masuk IPS. Sejak saat itulah, tingkat kerajinan gue mulai berkurang. 5 cm di depan dahi gue, gue cuma tulis "Gue harus kuliah di UI.". Udah.
Ibu gue, sebagai single parent, beliau sangat mendorong gue untuk bisa sekolah di sekolah unggulan. Beliau pengen banget punya anak sarjana lulusan UI. Beliau gak memaksakan keinginannya itu sih, tapi sebagai anak yang mencoba untuk jadi kebanggaan orang tua, gue berusaha mewujudkan itu. "Gue harus kuliah di UI. Gue harus selesai S1 dalam 4 tahun.", dan akhirnya gue baru memutuskan mau masuk jurusan apa pas isi formulir pendaftaran SPMB. Pilihan pertama Komunikasi, pilihan kedua Sastra Prancis. Keterima di pilihan kedua. :')
Selama kuliah, sayangnya, gue kurang memaksimalkan kemampuan gue. Harus gue akui, gue kurang rajin, suka bolos kuliah. Kalau ada jatah bolos 3x setiap mata kuliah di setiap semester, gue gak akan menyia-nyiakan rezeki tersebut, pasti gue habiskan jatah bolosnya~ Gue akan menggunakan jatah bolos itu kebanyakan untuk... tidur di kosan teman. Kalau ada tugas, ya gitu deh, kurang memaksimalkan diri, dalam hati gue bilang "Kuliah susah, dosen-dosennya bikin tekanan batin (maaf Mesdames, Messieurs... :p), yah dapat nilai B aja gue udah Alhamdulillah."
Bodohnya, selama kuliah, prinsip itu yang terus gue pegang. IP gue pernah jatuh sejatuh-jatuhnya di semester 5, terjun bebas, cuma 2,3. Ngulang 1 mata kuliah, sisanya dapat C+. Nangis sejadi-jadinya lah gue. Di semester 8 gue baru sadar buat kuliah yang benar, dan akhirnya gue bisa ngerasain juga dapat IP di atas 3,5. Di semester akhir. Ke mana aja, Des?
Iya, penyesalan itu selalu datang di akhir, kalau datang di awal namanya pendaftaran.
Iya, penyesalan itu selalu datang di akhir, kalau datang di awal namanya pendaftaran.
Beda sama Abel. Dia dari awal kuliah, udah semangat joeang '45, mewajibkan dirinya untuk ke Prancis. "Buat apa kuliah di Sastra Prancis, kalau aku gak bisa ke Prancis. Aku harus dapat beasiswa!". Gue juga kurang lebih punya keinginan begitu, tapi kalau versi gue "Yah, mudah-mudahan nanti gue bisa jalan-jalan ke Prancis.". Negara tujuannya mungkin sama, tapi cara menuju tempat itu yang berbeda.
Ngomong-ngomong soal beasiswa, Abel itu mungkin pantas menyandang gelar "Miss Scholarship". Mulai dari beasiswa semesteran dari kampus, beasiswa dari suatu Bank swasta berupa uang saku (yang dia dapat secara "kebetulan", yang akhirnya gue suka kecipratan dapat traktiran setiap beasiswa dari Bank itu turun :p), beasiswa double degree di Prancis, beasiswa S2 di Belanda, sampai beasiswa entah apalah namanya lagi gue lupa. Gue Alhamdulillah pernah ngerasain beasiswa juga sih, di semester pertama kuliah, tapi abis itu malas untuk ngejar lagi, karena prosedurnya cukup ribet. Ya, itu. Malas.
Tapi, jangan khawatir, Abel itu juga sama kayak manusia pada umumnya. Procrastinator. Gampang terdistraksi. Moody-an. Baru ngerjain makalah H-2 menjelang deadline.
Tapi, dia bisa selesain tugasnya itu dengan baik, bahkan lebih baik dari kerjaan lo yang udah lo siapin dari minggu lalu. Brengsek kan? Iya, emang. Jangan percaya kalau 5 menit sebelum ujian dimulai dia bilang "Mati! Aku belum belajar! Blablabla~". Sakit hati lo ntar kalau lihat nilai ujian udah keluar! :'))
Gong-nya adalah pada tanggal 22 Agustus 2014, dia whatsapp di grup pertemanan kami yang isinya "Kakakakak... Alhamdulillah aku keterima PhDnya. Mau nangis rasanya.. :("
Gue baca whatsapp itu berasa disamber gledek. Bujug, udah mau S3 di umur 25 tahun? Gak Salah? Gue S2 aja belum berani (gara-gara lulus S1 ambil jalur non-skripsi ;p), eh dia udah mau S3 aja! Doyan amat sekolah ini anak~
Gak, gak salah, Abel mau langsung nerusin S3. Tahun depan mungkin. Ya itu juga langsung sih namanya, kayaknya.
Btw, dia lulus S2 dengan predikat Cum Laude, fyi aja.
Di satu sisi, sebagai teman (emang iya kita temenan?), gue bangga. Jadi gue bisa bilang "I am a proud friend", kayak orang-orang gitu kalau temannya ada yang berprestasi, ngaku-ngaku gitu deh. Tapi di sisi lain, gue merasa ketampar juga, "Kok kayaknya gue gini-gini aja, ya...", begitu yang ada di pikiran gue. Ada keinginan dalam hati kecil gue untuk nerusin sekolah, cari beasiswa ke luar negeri, tapi ya namanya manusia kalau udah kenal yang namanya duit (baca: kerja), kalau udah gajian suka lupa lagi niat mau sekolahnya, namanya juga manusia. Gue doang bukan sih yang begitu? :p
Terlepas dari Abel yang sebenarnya lari dari kenyataan yang bernama "Dunia Kerja" (eh maap Bel, aib-mu tak bongkar sitik :p), gue harus tetap mengakui, Abel menginspirasi gue. Mungkin nanti saat gue udah nikah & punya anak, gue akan bilang sama anak gue "Nak, kalau kamu sekolahnya malas-malasan, gak memaksimalkan kemampuan kamu, kamu akan nyesal kayak Ibu dulu. Tapi kalau kamu rajin, punya mimpi setinggi langit, dan serius ngejar mimpi kamu itu, kamu bisa kayak teman Ibu, Tante Abel. :)"
Btw, dia lulus S2 dengan predikat Cum Laude, fyi aja.
Di satu sisi, sebagai teman (emang iya kita temenan?), gue bangga. Jadi gue bisa bilang "I am a proud friend", kayak orang-orang gitu kalau temannya ada yang berprestasi, ngaku-ngaku gitu deh. Tapi di sisi lain, gue merasa ketampar juga, "Kok kayaknya gue gini-gini aja, ya...", begitu yang ada di pikiran gue. Ada keinginan dalam hati kecil gue untuk nerusin sekolah, cari beasiswa ke luar negeri, tapi ya namanya manusia kalau udah kenal yang namanya duit (baca: kerja), kalau udah gajian suka lupa lagi niat mau sekolahnya, namanya juga manusia. Gue doang bukan sih yang begitu? :p
Terlepas dari Abel yang sebenarnya lari dari kenyataan yang bernama "Dunia Kerja" (eh maap Bel, aib-mu tak bongkar sitik :p), gue harus tetap mengakui, Abel menginspirasi gue. Mungkin nanti saat gue udah nikah & punya anak, gue akan bilang sama anak gue "Nak, kalau kamu sekolahnya malas-malasan, gak memaksimalkan kemampuan kamu, kamu akan nyesal kayak Ibu dulu. Tapi kalau kamu rajin, punya mimpi setinggi langit, dan serius ngejar mimpi kamu itu, kamu bisa kayak teman Ibu, Tante Abel. :)"
![]() |
| Duileh, Tante Abel... |
